GAMBAR SONGSONG ABDINIPUN KANJENG GUPREMEN, SONGSONG PASISIR

Manuskrip merupakan koleksi langka yang dipunyai oleh setiap bangsa di belahan dunia. Masyarakat bisa mempelajari perjalanan hidup leluhurnya melalui naskah lama yang telah dianggit leluhurnya. Manuskrip sangat penting utuk dikaji dan dijaga kelestariannya karena ini merupakan jejeak sejarah yang sangat penting. Ini juga merupakan warisan masa lampau yang memuat pengetahuan yang berkaitan dengan realitas atau kondisi sosiokultural yang berlainan dengan kondisi sekarang.

Manuskrip juga mengandung informasi yang tak sembarangan dari bidang sastra, agama, hukum, adat istiadat, dan lannya. Informasi yang berada di manuskrip dapat membantu atau menjadi panduan bagi penekun sejarah maupun peneliti di bidang humaniora tatkala mempelajari topik yang dikajinya.  Contohnya adalah gambar songsong abdinipun kanjeng gupremen, songsong pasisir.

Manuskrip ini telah didaftarkan oleh Yatini Wahyuningsih, SE, M.Si pada tanggal 28 Juni 2021 di Surakarta. gambar songsong abdinipun kanjeng gupremen merupakan sebuah serat yang berisikan gambar payung barikut tata cara penggunaannya yang diperuntukkan bagi golongan berpangkat tertentuyang bekerja di bawah pemerintahan Hindia-Belanda, atau lebih spesifiknya dibawah Gubernur Jenderal. Gambar tersebut dibuat di Surakarta tahun 1932 oleh Widasupama. Urutan gambar dan penggunaan payung dimulai dari payung untuk mereka yang berpangkat adipati. Urutan disusun dari pangkat tertinggi ke pangkat terendah, hingga mereka yang bekerja sebagai guru bantu. gambar songsong abdinipun kanjeng gupremen menjadi bukti bahwa payung bukan sekedar simbol feodalisme bagi mereka yang berada dilingkungan keraton, tetapi sudah termasuk dalam lingkungan pemerintah kolonial Belanda.

Naskah ini menjelaskan secara spesifik mengenai payung kebesaran dan payung kehormatan yang dipakai para pegawai atau bawahan Gubernur Jenderal. Deskripsi ini diuraikan melalui bahasa yang lugas dan ilustrasi yang dibuat sama persis dengan bentuk aslinya. Menggunakan warna prada emas dan warna-warna.

Sampai sekarang, serat ini masih bertahan dengan upaya pelestariannya dari mulut ke mulut. Selain itu ada juga bentuk dokumentasinya berupa naskah, mikrofilm, dan foto digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *