Kajian Naskah Kuno Serat Babad Pakualaman

Penulisan buku “Kajian Naskah Kuna Babad Pakualaman” ini dilakukan berdasarkan permasalahan: bagaimanakah korpus naskah kuna Serat Babad Pakualaman ?; bagaimana Identifikasi naskah kuna Serat Babad Pakualaman koleksi Perpustakaan Pura Pakualaman Yogyakarta ?; Bagaimana Kondisi Fisik naskah kuna Serat Babad Pakualaman koleksi Perpustakaan Pura Pakualaman Yogyakarta ?; Seperti apakah contoh teks naskah kuna Serat Babad Pakualaman koleksi Perpustakaan Pura Pakualaman Yogyakarta beserta terjemahannya ?; Bagaimanakah Selayang pandang isi naskah Serat babad pakualaman?. kajian ini dilakukan untuk menjawab oertanyaan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Serat Babad Pakualaman merupakan naskah tunggal, tersimpan di Perpustakaan Pura Pakualaman Yugyakarta. Tebal naskah 2.908 halaman. Jilid I setebal 964 halaman. Jilid II setebal 1.144 halaman, Jilid III setebal 800 halaman. Kondisi fisik naskah masih cukup bagus. Penulisan Serat Babad Pakualaman diprakarsai oleh Gusti Raden Ayu Paku Alam VI, dengan penulis Raden Lurah Jayeng UtaraTeks Serat Babad Pakualaman mengisahkan sejarah perkembangan pendirian Praja Kadipaten Pakualaman, mulai dari penobatan Pangeran natakusuma, putra Sri Sultan HB I, menjadi KGPAA Paku Alam I, pada tahun 1812. selanjutnya dikisahkan mengenai lukisan kedatangan Gubernur Jenderal Raffles di Yogyakarta, kemudian cerita tentang wafatnya Hamengku Buwana III, Hamengku Buwana II, sampai dengan wafatnya Paku alam I, penobatan Paku Alam II hingga penobatan Paku Alam V. dalam cerita sejarah tersebut juga diselipkan ajaran keutamaan hidup yang dalam estetika Pura pakualaman disebut sestradi.

Serat Babad Pakualaman adalah sebuah manuskrip Jawa karya skriptorium Pura pakualaman Yogyakarta. Serat Babad Pakualaman merupakan naskah tunggal (codex unicus), tersimpan di perpustakaan Pura Pakualaman Yogyakarta dengan volume 3 jilid. dengan ketebalan 2.908 halaman. Jilid I setebal 964 halaman. Jilid II setebal 1.144 halaman, Jilid III setebal 800 halaman. Serat Babad Pakualaman ditulis pada tahun 1918 Masehi, pada masa pemerintahan KGPAA Paku Alam VII yang bertahta pada tahun 1906-1937 Masehi. Teks Serat Babad Pakualaman ditulis dalam bentuk puisi Jawa tembang macapat sejumlah 13.927 terbagi dalam 453 pupuh. Teks Serat Babad Pakualaman mengisahkan sejarah perkembangan pendirian Praja Kadipaten Pakualaman, mulai dari penobatan Pangeran natakusuma, putra Sri Sultan HB I, menjadi KGPAA Paku Alam I, pada tahun 1812. selanjutnya dikisahkan mengenai lukisan kedatangan Gubernur Jenderal Raffles di Yogyakarta, kemudian cerita tentang wafatnya Hamengku Buwana III, Hamengku Buwana II, sampai dengan wafatnya Paku alam I, penobatan Paku Alam II hingga penobatan Paku Alam V. Sejarah penciptaan Serat Babad Pakualaman, penulisan kitab ini diprakarsai oleh Gusti Raden Ayu Paku Alam VI, dengan penulis Raden Lurah Jayeng Utara. Penggubahan Serat Babad Pakualaman dimaksudkan untuk membuat peringatan 130 mengenai tindak tanduk eyangnya, yakni KGPAA Paku Alam II, maupun ayahandanya, KGPAA Paku Alam III dan seterusnya yang memegang tampuk pemerintahan Kadipaten Pakualaman beserta segala peristiwa yang terjadi yang pantas diceritakan untuk dijadikan suri tauladan. Nilai Serat babad pakualaman dalam kehidupan kerabat Pura Pakualaman, bahwa dalam esterika Pura Pakualaman bersastra adalah berolah sestradi. Sastra adalah sarana dan wahana penanaman keutamaan hidup. Dengan bersastra, dengan membaca karya sastra, adalah sebagai wahana belajar untuk mengenal keutamaan hidup. Berkaitan dengan Serat Babad Pakualaman, dengan membaca Serat Babad pakualaman diharapkan sebagai wahana untuk mengenal sejarah dan jasa para leluhur pemegang tampuk pemerintahan Kadipaten Pakualaman, beserta segala peristiwa yang terjadi pada jamannya. Kisah kehidupan para leluhur tersebut diharapkan bisa menjadi ajang pembelajaran, hal yang baik perlu ditiru dan ditindaklanjuti, sedangkan hal yang dinilai kurang baik perlu dimengerti untuk dihindari. Pengenalan terhadap sejarah dan jasa leluhur juga dimaksudkan sebagai wahana untuk memuliakan dan menghormati para pendahulunya, yang sudah mewariskan kemuliaan kepada para keturunannya. Dengan begitu bisa menumbuhkan rasa bangga dan hormat kepada jasa para leluhur sehingga bisa menjadi pengendali diri dalam berbuat dan bersikap guna menjaga dan mempertahankan kehormatan keluarga besarnya. Dalam kehidupan kerabat Pura Pakualaman, nilai-nilai keutamaan hidup yang terkandung dalam karya pustaka diterapkan dan diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, sebagai realisasi ajaran sestradi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *