Penanda Sejarah di Kota Yogyakarta Kemantren Gedongtengen

Kota Yogyakarta lahir dari rangkaian peristiwa sejarah di masa lampau. Hal itu menjadikan kota Yogyakarta memiliki banyak kisah-kisah sejarah baik mengenai asal-usul nama tempat maupun kisah perjuangan kemerdekaan. Di kawasan Kota Yogyakarta sendiri terdapat jejak peninggalan sejarah masa klasik (Mataram Kuna), Mataram Islam, Kolonial, Pergerakan nasional, dan revolusi. Yang tidak hanya menyajikan cerita sejarahnya saja, melainkan terdapat pula bangunan, tempat, bahkan kawasan yang menjadi saksi bisu terjadinya peristiwa tersebut. monumen atau tetenger dibangun untuk menjadikan penanda bahwa di lokasi tersebut pernah berlangsung sebuah peristiwa penting yang berpengarung bagi Kota Yogyakarta. Adapun maksud dan tujuan dari penulisan kajian ini adalah sebagai berikut:

  1. Menginventarisasi monumen dan tetenger penanda bersejarah di Kota Yogyakarta.
  2. Mendokumentasikan monumen dan tetenger penanda sejarah yang ada di Kota Yogyakarta.
  3. Menggali latar belakang sejarah didirikannya setiap monumen dan tetenger penanda sejarah tersebut.

Adapun monumen/ tetenger yang berada di kawasan Kemantren Gedongtengen antara lain sebagai berikut:

  1. Bank BPD DIY Digital Lounge Malioboro, monumen ini berlokais di Jl. Malioboro No. 1, Sosromenduran, Gedong Tengen. Monumen ini berbentuk bangunan yang berfungsi sebagai Dahulu, tempat ini merupakan salon untuk wanita dan tempat potong rambut untuk pria. Hal ini terlihat dari tulisan pada dinding utara bangunan yang bertuliskan: Salon Voor Dames-Coiffeur Voor Heeren. Sayangnya pemanfaatan bangunan ini tidak terawat dengan jelas, pernah beberapa tahun menjadi bangunan kosong, tidak terawat.
  2. Candi Donotirto, berlokais di Jl. Kemetiran Kidul No. 35, Pringgokusuman, Gedongtengen. Tetenger ini berupa situs yang berfungsi sebagai Bangunan ini dibangun pada tahun 1930 oleh pihak keraton pada mas apemerintahan HB VIII sebagai fasilitas umum untuk memenuhi kebutuhan sanitasi warga sekitar di awal abad 20. Sekarang, bangunan ini berada di bawah pengelolaan kampung Kementrian Kidul dan masih berfungsi serta digunakan sebagai tempat mandi, cuci, dan kakus untuk warga sekitar. Di depan candi terdapat monumen yang bertuliskan nama warga Kemetiran Kidul yang dianggap sebagai pejuang Kemerdekaan oleh beberapa warga Kementiran Kidul.
  3. DPD PEPABRI, berlokasi di Jl. Kemetiran Kidul No. 35, Pringgokusuman, Gedongtengen. Monumen ini berupa bangunan yang berfungsi sebagai Landmark. Awalnya,bangunan ini adalah milik Tionghoa namun tidak dikerahui secara pasti mengenai penggunaan awal dari bangunan ini. pasca peristiwa G30S/PKI pada tahun 1965 bangunan ini berada dibawah KOREM, kemudian dikarenakan bangunan ini berada di Sultan Ground, kemudian bangunan ini difungsikan sebagai kantor DPD Pepabri.
  4. DPRD DIY, berlokasi di Jl. Malioboro, Sosromenduran, Gedongtengen, Yogyakarta. Monumen ini berbentuk bangunan yang berfungsi sebagai Landmark. Sekitar tahun 1870 sekelompok orang Eropa mendirikan Loji Freemason (Kemason) di ruas Jalan Malioboro sebelah utara Kepatihan. Loji ini dinamakan Loji Mataran atau biasa dijuluki Loji Setan. Gedung ini digunakan untuk kegiatan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP) dari tahun 1948 hingga 1950. Disini Moh Hatta mencetuskan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif pada 2 September 1948 saat siding BP KNIP dengan judul “Mendayung Diantara Dua Karang”. Setelah kembali nya ibu kota RI ke Jakarta pada 1949, pihak kesultanan Yogyakarta menyerahkan pemakaian gedung kepada Pemerintah DIY untuk digunakan sebagai Gedung DPRD DIY. Penyerahan ini dilakukan pada tahun 1951 dan masih berfungsi sampai sekarang.
  5. Hotel Toegoe, berlokasi di Jl. P. Mangkubumi No. 5, Sosromenduran, Gedong Tengen. Monumen ini berbentuk bangunan yang berfungsi sebagai Landmark. Belum dietahui sejak kapan hotel ini berdiri, yang jelas hotel ini sudah ada pada tahun 1884. Pada tahun 1920-an dan 1930-an Hotel Tugu menyediakan makanan sehari-hari untuk Sultan Hamengku Buwono VIII. Awalnya hotel ini bernama Loose Gennootschap Grand Hotel de Djogja, kemudian berubah menjadi Naamloose Gennootschap Marba. Pada masa pendudukan Jepang, Hotel Tugu difungsikan sebagai markas militer Jepang. Pada masa Agresi Militer Belanda II H digunakan sebagai markas pusat perwira-perwira tentara Belanda di bawah pimpinan Letnan Kolonel D. B. A Van Langen. Oleh karena itu, pada saat serangan umum 1 Maret 1949, Hotel Tugu menjadi salah satu sasaran strategis yang diserbu TNI. Pada tahun 1949, Hotel Tugu dipakai rapat antara Indonesia dengan Commitee of Good Office for Indonesia (Komisi Tiga Negara beranggotakan Australia, Belgia, dan Amerika Serikat) sebagai persiapan KMB. Pada tahun yang sama, pernah menjadi Hotel Tentara. Kemudian juga pernah digunakan menjadi kantor bank dan kedaung Plaza. Sekarang komplek Hotel Tugu tidak dimanfaatkan untuk fasilitas apapun.
  6. Jogja Library Center, berlokasi di Jl. Malioboro No. 175, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta. Tetenger ini berupa bangunan yang berfungsi sebagai Awalnya bangunan ini merupakan toko buku dan penerbit “Kolf Bunning”. Pada masa pendudukan jepang, bangunan in digunakan kantor berita Domei yang berfungsi untuk kantor penerangan atau propaganda. Pada saat RI telah memproklamasikan kemerdekaannya, sebenarnya kantor berita Domei telah mengetahuinya. Akan tetapi dilarang untuk menyebarkan berita tersebut oleh Gunsaikanbu (Kantor Pembesar Tentara Pendudukan Jepang). Para petugas markonis dan wartawan berita Domei yang berjiwa nasionalis, tetap menyebarkannya secara sembunyi-sembunyi. Akhirnnya berita itu sampai ke Ki Hajar Dewantara dan anggota Taman Siswa lainnya, dan menggugah semangat mereka untuk ikut menyebarkan berita ini. mereka mengumumkan proklamasi kemerdekaan dengan bersepeda dari Pawiyatan Taman Siswa kemudian berkeliling pusat Kota Yogyakarta.
  7. Kimia Farma I, berlokasi di Jl. Malioboro No 123, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta. Tetenger ini berbentuk bangunan yang berfungsi sebagai Gedung ini didirikan pada tahun 1865, merupakan saalah satu apotek yang berada di Yogyakarta pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Awalnya apotek ini merupakan Apoek J. Van Gorkom, hal itu ditandai dengan terdapatnya tulisan pada dinding gevel atau gable bagian depan apotek tersebut yang bertuliskan ANNO 1865 Chemis Druggises, Apotheek J. Van Gorkom &Co. Keberadaan apotek tersebut menandai bukti kebutuhan medis dalam keseharian masyarakat kota Yogyakarta pada saat itu. Setelah indonesia meraih kemerdekaan, gedung ini berubah menjadi Kimia Farma.
  8. Kimia Farma II, berlokasi di Jl. Malioboro No. 123, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta. Monumen ini berbentuk bangunan yang berfungsi sebagai Awalnya bangunan ini merupakan bangunan Aphotheek Rathkamp yang merupakan perusahaan farmasi sekaligus apotek pertama dan cukup besar di Hindia Belanda. Nama perusahaan ini awalnya adalah NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co yang berpusat di Batavia. Kemudian membuka cabang di beberapa kota, termasuk Yogyakarta. Pasca kemerdekaan, usaha ini dinasionalisasi menjadi perusahaan Negara Farmasi Bhinneka Kimia Farma yan kemudian menjadi PT. Kimia Farma.
  9. SMKN I Yogyakarta, berlokasi di Jl. Kemetiran Kidul No. 35, Pringgokusuman, Gedongtengen. Monumen ini berbentuk bangunan yang berfungsi sebagai Landmark. Bangunan ini awalnya merupakan tanah milik Djaelani, seorang pegawai Fonds Kemerdekaan Indonesia, dan pada tahun 1947 tanah tersebut diserahkan kepada Keraton Yogyakarta. Kemudian Tjan Ging Tjan, wakil dari yayasan Chung Hua Tsung Hui meminta izin kepada keraton untuk mendirikan sekolah pada tanah tersebut. pada tahun 1948 didirikan sekolah untuk orang-orang cina dengan bahasa pengantar cina dan dikenal dengan sekolah Tionghoa II. Setelah terjadi pemberontakan G30S/PKI pada tahun 1965, sekolah ini dibekukan dan kemudian berada dibawah penanganan Kodim 0734 Yogyakarta. Kemudia gedung ini digunakan untuk gedung Team Screening bagi pegawai negeri dari keterlibatan organisasi masa. Tahun 1974 digunakan untuk SMEP Negeri I dan II. Pada akhirnya berdasarkan surat Kodim 0734 Yogyakarta Kota No: SIPG-23-I/V/1976, oleh kantor wilayah Depdikbud Provinsi DIY bangunan sekolah itu digunakan untuk SMEA Negeri II hingga sekarang namanya diubah menjadi SMK Negeri I Yogyakarta.
  10. Stasiun Tugu Yogyakarta, berlokasi di Jl. P. Mangkubumi No.5, Sosromenduran, Gedong Tengen. Tetenger ini berupa bangunan yang berfungsi sebagai Landmark. Pada tanggal 12 Mei 1887 perusahaan kereta api milik pemerintah Staats Spoorwegen (SS) membuka sebuah jalur kereta api dengan stasiunnyadi sebelah selatan tugu. Selama pembangunannya muncul kegiatan prostitusi untuk memebuhi kebutuhan pekerja di selatan stasiun tugu sebelah baratyang dikenal sebagai Pasar Kembang atau sarkem. Selain itu juga muncul penginapan-penginapan atau fasilitas lainnya.
  11. Tetenger Yogya Kembali, yang berlokasi di Halaman Hotel Garuda, Sosromenduran, Gedongtengen, Yogyakarta. Tetenger ini berupa benda yang berfungsi sebagai tetenger. Pada tanggal 29 Juni 1949, tentara Belanda mundur dari Yogyakarta. Salah satu pasukan pada tanggal 29 Juni 1949 sesudah gencatan senjata, mengadakan perhitungan amunisi, mendapat tiap pucuk senjata rata-rata tinggal 16 butir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *