Permainan Tradisional Dingklik Oglak-aglik

Permainan tradisional merupakan suatu permainan yang tumbuh dan berkembang di daerah tertentu, yang sarat dengan nilai-nilai budaya dan tata nilai kehidupan masyarakat dan diajarkan turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya (Kurniati, 2016:2).

Sebagai salah satu kota budaya yang ada di Indonesia, Yogyakarta memiliki banyak permainan tradisional yang berasal dari daerah ini, salah satu contohnya adalah permainan tradisional Dingklik Oglak-aglik. Sebagai kota besar, Yogyakarta tentunya menerima perkembangan teknologi dengan baik.  Oleh sebab itu, sekarang permainan tradisional ini mulai ditinggalkan. Berangkat dari hal ini, maka permainan tradisional berhak masuk kedalam warisan budaya tak benda.

Permainan  dingklik oglak-aglik  merupakan kategori permainan bernyanyi karena mengandung nilai rekreasi sosial. Permainan ini dapat dimainkan oleh tiga sampai lima orang, baik untuk anak laki-laki maupun anak perempuan. Kata dhingklik  berarti bangku dan oglak-aglik berarti mudah goyah. Permainan ini menirukan bangku yang kondisinya tidak stabil sehingga mudah goyah.

Permainan ini terbagi menjadi beberapa bagian. Bagian yang pertama semua anak berdiri dan bergandengan tangan. Pada bagian kedua, dua anak menerobo dua anak lain sampai bertolak belakang sambil tetap bergandengan tangan. Bagian ketiga, semua anak mengangkat salah satu kakinya kedalam lingkaran yang kemudian dikaitkan membentuk posisi kokoh agar tidak mudah jatuh. Bagian keempat, gandengan tangan di lepaskan dan anak-anak bertepuk tangan dambil melonjak dan bernyanyi. Jika ada kaitan kaki yang lepas, makan permainan berakhir.

Menilik dari sisi historisnya, permainan ini sulit diceritakan berdasarkan sejarah. Tapi, menilik dari nama permainannya, dhingklik berasal dari bahasa jawa yang berarti tempat duduk. Sementara kata dhingklik oglak-aglik berarti bangku yang kayunya atau bambu tiangnya sudah tidak stabil sehingga bila diduduki sambil bergerak-gerak maka akan mudah terjatuh. Penggunaan dhingklik di jawa sendiri biasanya digunakan saat mencanting batik atau dijadikan sebagai peralatan dalam prosesi siraman oleh pengantin jawa. Bentuk dhingklik yang berkaki kecil dan pendek biasanya tidak nyaman untuk duduk berlama-lama.

Sekarang ini, permainan dhingklik oglak-aglik sudah sangat jarang dimainkan oleh anak muda. Karena sekarang banyak anak muda yang lebih menghabiskan waktunya dengan sendiri atau dengan satu dua orang teman terdekatnya dan sering membutuhkan waktu menyendiri untuk memulihkan energi setelah berada di keramaian. Selain itu, permainan ini sudah jarang dimainkan karena sudah berbeda ideologi terhadap permainan ini, anak-anak lebih banyakmenginginkan permainan yang ada unsur perlawanannya, yang mana hal tersebut tidak ada di permainan ini, karena permainan dhingklik oglak-aglik merupakan besenang-senang dengan bermain dan bernyanyi.

Ditinjau dari fungsinya, dhingklik oglak-aglik dapat dijadikan sebagai metode pembelajaran pada anak-anak.  Nilai yang terkandung dalam permainan ini dinilai sangat penting dalam pembentukan karakter anak, kepribadian anak, spiritual anak, dan pembentukan mental serta spiritualitas anak. Permainan ini juga mengajarkan kerja keras, dalam permainan ini para pemain harus menjaga keseimbangan sebaik mungkin sambil terus bernyanyi, berputar, dan bertepuk tangan. Selain itu, permainan ini juga mengajarkan nilai persahabatan, dimana dalam permainan ini pemain dituntuk untuk kolektif melindungi pemain lain. Selain itu, pemain harus sabar saat mengaitkan kaki dan anak-anak juga belajar supportif saat menerima kekalahan.

Dhingklik oglak-aglik ini mempunyai nilai persatuan, merepresentasikan bahwa masyarakat jawa menyadari hidup itu tidak sendiri, hidup ini di peruntukkan untuk masyarakat, sehingga masyarakat jawa sangat mementingkan kolektivitas, memntingkan hidup dengan sesamanya atau hidup bermasyarakat saling pengertian.

Permainan tradisional ini harus tetap dilestarikan dan dijaga keharmonisan memainkannya oleh masyarakat. Pemerintah juga mempunyai peran penting dalam menjaga upaya pelestariannya.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen − three =

Latest Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.