Potensi & Profil Desa Wisata Tingkir Lor Kabupaten Salatiga

desa wisata

Desa Wisata Tingkir Lor terletak di wilayah Kota Salatiga, sekitar 1 km dari Terminal Bus Salatiga. Luas wilayahnya sekitar 105,085 ha. Iklim di wilayah ini yaitu tropis dengan suhu udara sejuk bertemperatur 23,200C – 26,500C. Topografi desa Tingkir Lor memiliki kemiringan kurang lebih 25% dengan ketinggian kurang lebih 450 – 525 dpl (Putra, 2006:71). Jumlah penduduk desa Tingkir Lor sebesar 4401 jiwa dengan kepadatan penduduk per kapita 2482 jiwa/km2 (Statistik Daerah Kecamatan Tingkir, 2014).

Menurut Statistik Daerah Kecamatan Tingkir (2014), Tingkir Lor ditetapkan sebagai desa wisata dengan konsentrasi industri pengolahan. Adapun industri yang diusahakan adalah koveksi, makanan ringan dan besek pindang. Dengan digerakkannya industri pengolahan di desa Tingkir Lor, pengembangan desa wisata nantinya dapat diharapkan sebagai kontributor perekonomian dan penyerap tenaga kerja.

Desa Tingkir Lor mulai dikembangkan menjadi desa wisata pada tahun 2002. Awalnya keputusan untuk menjadikan desa wisata berasal dari banyaknya kunjungan pembeli hasil kerajinan konveksi yang tersebar di desa ini. Usaha konveksi di desa Tingkir Lor sudah turun-temurun dari puluhan tahun yang lalu. Di samping itu, Kota Salatiga yang memiliki potensi alam dan budaya juga hendak meningkatkan produktivitas pariwisata salah satunya dengan mengembangkan desa wisata.

Desa Wisata Tingkir Lor menyajikan pemandangan alam menjadi salah satu atraksi utama. Pemandangan alam tersusun atas penampakan Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, area persawahan, sungai dan pepohonan.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa industri konveksi telah menjadi usaha turun-temurun, saat ini industri tersebut menjadi atraksi wisata tersendiri. Selain itu hasil olahan konveksi dipasarkan kepada wisatawan serta dijual keluar kota dan provinsi.

Selain sebagai pusat industri konveksi, desa Tingkir Lor juga mempunyai pabrik home industry untuk pembuatan bakpia. Pabrik ini dikelola oleh salah satu warga desa. Saat ini bakpia hasil buatan pabrik home industry tersebut telah dipasarkan ke kota-kota di sekitar Salatiga.

Sebagai bentuk atraksi kesenian, desa Tingkir Lor mengelola kesenian drumblek. Drumblek memiliki kemiripan dengan grup orkes barisan (marching band). Orkes barisan sendiri adalah sekelompok barisan orang yang memainkan satu atau beberapa lagu dengan menggunakan sejumlah kombinasi alat musik secara bersama-sama. Perbedaannya yaitu drumblek lebih banyak menggunakan alat-alat musik yang berasal dari bahan bekas untuk kemudian didaur ulang seperti kaleng. Di desa Tingkir Lor terdapat 4 grup drumblek yang masing-masing terdiri dari 30 – 40 anggota.

Aspek lainnya yang tidak kalah penting dalam suatu kegiatan wisata adalah kuliner khas. Salah satu kuliner yang ditawarkan oleh desa wisata Tingkir Lor adalah sambal tumpang khas Salatiga. Makanan ini dibuat dari tempe besem, tempe putih, tahu, santan, daun salam, lengkuas, daun jeruk, cabai, bawang putih, dan gula jawa. Sambal ini disajikan dengan sayuran yang sudah direbus.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat. Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *