Orang Malind dan Tanahnya: Membaca Kebijakan Food Estate Melalui Paradigma Ethnoecology dan Ethnodevelopment

hutan

Etnoekologi Malind dapat dibaca melalui cara mereka menempatkan ‘hutan’ sebagai ekosistem atau ruang hidup yang sangat penting bagi kesehariannya. Hutan bagi orang Malind adalah tempat mereka dilahirkan, tempat untuk mendapat makan, tempat untuk mendapat jaminan. Segala yang dibutuhkan orang Malind dalam kesehariannya didapatkan dari hutan baik untuk makan maupun minum. Hutan menyediakan sagu, daging dan kelapa. Hutan memberikan ketentraman dan kenyamanan hidup bagi orang Malind. Hutan bagi suku Malind bukan semata limpahan kayu yang bisa dengan mudah ditebang untuk digantikan dengan perkebunan. Bagi orang Malind, hutan adalah sumber kehidupan. Hutan adalah tempat hidup rusa yang menjadi sumber daging bagi mereka. Hutan juga menjadi lumbung pangan karena disanalah tumbuh pohon-pohon sagu yang senantiasa dapat diandalkan sebagai sumber pangan.

Penebangan hutan yang telah merusak dusun sagu menjadi malapetaka bagi masyarakat Zanegi. Dusun sagu atau lumbung pangan orang Malind yang seharusnya di-enclave dengan jarak 1500 meter dari aktivitas perusahaan, tidak ditepati. Pohon-pohon sagu rusak terkena penebangan kayu. “Kalau sagu habis, berarti manusia habis”, merupakan sebuah kutipan yang merefleksikan bahwa sagu adalah bagian dari sediaan alam yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Zanegi. Hilangnya sagu berarti hilangnya kehidupan masyarakat Zanegi.

Hutan yang rusak, rusa yang tidak lagi mudah dijumpai serta pohon-pohon sagu yang tidak lagi bisa diandalkan sebagai lumbung pangan sehari-hari adalah beberapa kepahitan yang kini ada di depan mereka. Suku Malind Anim sebagai masyarakat peramu yang mengandalkan hutan sebagai sumber hidup utama harus mengalami kenyataan berubahnya ruang hidup secara drastis. ‘Dulu’ dan ‘sekarang’ adalah periode waktu yang digunakan orang Malind di Kampung Zanegi untuk membandingkan kenyamanan hidup yang tidak bisa dirasakan saat ini.

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470


Baca juga: Asal Mula Saparan Joyokusumo


No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight + seven =

Latest Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.