Radya Pustaka Merekam Jiwa Zaman

Kalau Tuan dan Nyonya sedang prei alias libur, atau memang punya waktu luang dan kaki gatal pengin jalan-jalan, sebaiknya pergi ke Museum Radya Pustaka di kompleks Taman Sriwedari. Museum tertua nomor dua di Indonesia setelah Bataviaasch Genoostschap (1778) tersebut siap menyambut kedatangan Anda yang hendak menimba ilmu dan menerbangkan ingatan historis tentang Nuswantara di masa lampau. Suasana di dalam museum tak lagi singup dan tak bikin bulu kuduk pengunjung merinding.

Museum ini pernah bikin Presiden Soekarno terpesona. Bung Karno sendirilah yang meresmikan patung dada Ranggawarsita di muka halaman museum tanggal 11 November 1953. Presiden pertama Indonesia ini tampaknya sadar betul bahwa bangunan tersebut bukan sembarang museum. Ia lahir karena buah proses sejarah masyarakat menyambut gairah intelektual yang meletup-letup di penghujung abad XIX sampai permulaan abad XX. Pengunjung perlu diajak mengerti mengenai latar belakang museum Radya Pustaka lahir dan berkembang.

Adalah Patih Sasradiningrat IV (1890-1916), tokoh pendiri Museum Radyapustaka yang sohor berotak brilian dan berpikiran progresif hidup dalam semangat literasi yang berkobar. The spirit of the age—atau apa yang disebut nabinya sejarawan Indonesia, Sartono Kartadirdjo sebagai jiwa zaman—merupakan kata kunci untuk menjelaskan mengapa museum ini didirikan.

Perkembangan kesusastraan keraton kala itu sulit dibendung. Pujangga termasyur, R.Ng. Ranggawarsita adalah ikon penting dalam jagad sastra. Ia menelurkan banyak karangan, yang nantinya menjadi bacaan bergizi bagi otak dan melunasi kebutuhan rohani pembaca di museum. Pujangga terbesar dan terakhir ini menjalin kerjasama dengan C.F. Winter, seorang juru bahasa keraton, menghasilkan beberapa buku. Antara lain, Kawi Javaansch Woordenboek, Saloka akaliyan Paribasan, Saridin, Sidin, Serat Candrarini dan lainnya.

Dengan bermunculan karangan sastra bermutu, Patih Sasradiningrat IV punya gagasan mendirikan perkumpulan Radya Pustaka di ndalem Kepatihan, sebelum dipindahkan ke ruang publik Kebon Rojo Sriwedari tahun 1913. Tujuannya ialah mengembangkan sastra istana dan membuat masyarakat melek sastra. Saban hari Rabu menggelar sarasehan mengulas sastra keraton dan bahasa Jawa. Aneka nilai yang menyangkut segi-segi religius-magis dan mencerminkan kekuasaan Jawa kudu diperkenalkan dan disemaikan di tengah masyarakat.

Cita-cita luhur membumikan karya sastra sukses berkat didukung oleh penerbitan huruf Jawa, seperti N.V. Budi Utama, Vogel an der Heide, G.C.T. van Dorp & Co, Albert Rusche dan muncul belakangan Satoe Budi. Perusahaan penerbitan itu membantu penyebarluasan nilai dan kearifan Jawa yang termaktub dalam buah pena para pujangga. Alhasil, dunia pustaka tambah semarak. Selain itu, dekade pertama abad XX ditandai pula dengan hadirnya aneka jenis surat kabar. Antara lain, Nieuwe Vostenlanden, Soerabajaasch Handelsblad, Sedia Utama, De Java Bode, Sin Po, Sin Po, Ik Po, Darma Kondho, Bramartani, dan Neratja.

Psikologi dan jiwa zaman ini lalu direspon petinggi “institusi” Radya Pustaka dengan menggelar kursus dan kegiatan pengembangan budaya Jawa dan ilmu pengetahuan bagi masyarakat secara luas. Obrolan tema kebudayaan, menerjemahkan karya sastra, musyarawah cara menulis Jawa (Edjaan Sriwedari), penyelenggaraan kursus dalang, kursus gamelan, dan kursus bahasa Kawi merupakan sederetan acara yang diselenggarakan di museum yang dilengkapi perpustakaan itu. Kerja tanpa dilumuri pamrih duit ini berbuah manis. Nama museum melambung di seantero Indonesia dan menggetarkan jagad intelektual (Heri Priyatmoko, 2014).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *