Serat Poncaniti

Manuskrip merupakan koleksi langka yang dipunyai oleh setiap bangsa di belahan dunia. Masyarakat bisa mempelajari perjalanan hidup leluhurnya melalui naskah lama yang telah dianggit leluhurnya. Manuskrip sangat penting utuk dikaji dan dijaga kelestariannya karena ini merupakan jejeak sejarah yang sangat penting. Ini juga merupakan warisan masa lampau yang memuat pengetahuan yang berkaitan dengan realitas atau kondisi sosiokultural yang berlainan dengan kondisi sekarang.

Manuskrip juga mengandung informasi yang tak sembarangan dari bidang sastra, agama, hukum, adat istiadat, dan lannya. Informasi yang berada di manuskrip dapat membantu atau menjadi panduan bagi penekun sejarah maupun peneliti di bidang humaniora tatkala mempelajari topik yang dikajinya.  Contohnya adalah Serat Poncaniti.

Serat Poncaniti ini sudah dilaporkan oleh Yatini Wahyuningsih, SE, M.Si pada tanggal 28 Juni 2021 di Surakarta. Serat Poncaniti ditulis oleh Ranggawarsita pada tahun 1868 di Surakarta. Serat ini berisi silsilah raja Jawa. Yang mmbedakan serat ini dengan silsilah lain adalah titik permulaannya, yakni dimulai dari Prabu Dewata Cengkar atau lebih spesifiknya Medang Kamulan hingga Kasunanan. Tidak hanya raja Jawa, serat yang ditulis dalam aksara dan bahasa Jawa ini juga memuat nama-nama orang Belanda yang pernah menduduki jabatan sebagai gubernur jenderal di Hindia Belanda, juga residen dan asisten residen di Surakarta.

Naskah ini ditulis dalam bentuk prosa dengan memakai aksara Jawa. Menceritakan dinasti leluhur raja-raja Surakarta, mulai dari tokoh legenda Prabu Dewata Cengkar dan diakhiri raja Pakubuwana IX. Sehingga banyak ditemukan kisah-kisah yang menyerupai dongeng namun dipercaya oleh masyarakat Jawa. Selain terpacak nama para raja berikut naik tahta dan lamanya memerintah, karangan tersebut menyebutkan nama patih, jaksa. Brahmana, dan pujangga sebagai gubernur jenderal Hindia Timur Belanda pada 1672-1797 tahun Jawa (1747-1868 M) dan rsiden Surakarta dan asisten residen. Pada dasarnya, penulisan setiap fragmen kejadian disertai sengkalan yang menunjukkan angka tahun perisiwa yang terjadi.

Sampai sekarang serat ini masih bertahan dengan upaya pelestariannya dengan cara promosi secara langsung dan promosi secara lesan, atau dari mulut ke mulut. Adapun dokumentasinya berupa naskah, mikrofilm, dan foto digital.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Kata kunci: Konsultan pariwisata, penelitian pariwisata, kajian pariwisata

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *