Tradisi Megoak-goakan di Kabupaten Buleleng

buleleng

Bali meupakan pulau dewata yang terkenal akanjulukan pulau seribu pura. Bali juga terkenal sebagai daerah multibudaya yang sudah ada sejak lama dalam perjalanan sejarahnya. Tradisi adalah suatu warisan budaya leluhur yang dilakukan dan dilestarikan. Dalam konteks kebudayaan, megoak-goakan adalah satu tradisi yang ada di Bali, dan dilakukan pertama kali oleh masyarakat adat Desa Panji, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng.

Megoak-goakan diyakini oleh masyarakat setempat bertujuan untuk menjaga hubungan yang harmonis antar sesame masyarakat yang melakukan tradisi Magoak-goakan. Tradisi ini merupakan kearifan local yang menjadi tolak ukur masyarakat Desa Panji untuk penghormatan terhadap raja Panji dengan pasukannya Bernama Teruna Goak serta dikaitkan dengan ajaran Hindu yaitu falsafah Tri Hita Karana, yang mengajarkan bahwa kebahagiaan manusia akan dapat dicapai bila manusia mampu menjaga keharmonisan hubungan atar manusia dengan penciptanya (prahyangan), manusia dengan alam (palemahan), manusia dengan sesamanya (pawongan).

Tradisi Magoak-goakan diperkirakan sudah ada pada masa pemerintahan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti di Buleleng. konon dikatakan kemunculan permainan tradisional ini dilatarbelakangi persoalan politik berkaitan dengan kekuasan raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti ke Blambangan Jawa Timur. permainan ini adalah kegiatan bermain untuk dapat meningkatkan kerjasama anak dalam bermain.

Diceritakan Raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti hendak mau menyerang ke Blambangan, pada saat itulah Ki Tamblang Sampun mendapat perintah dari I Gusti Anglurah Panji untuk memanggil seluruh anggota lascar Taruna Goak untuk berkumpul di halaman Puri Panji. Acara dimulai dengan upacara ritual dan disusul pementsan tarian ‘’Baris Goak’’ yang ditarikan oleh 20 orang anggoa pasukan. Setelah itu, dimulailah permainan ‘’Magoak-goakkan’’, yaitu permainan ‘’madangdang-dangdangan’’, yaitu prmainan saling isi mengisi keinginan sad rasa antara amggota dalam permainan. Masing-msing orang bergiliran menjadi ‘’Goak’’ yang boleh minta apa saja yang diinginkan. Seluruh pemain telah mendapatkan apa yang mereka inginkan yang semua itu diberikan oleh I Gusti Ngurah Panji kepada anggota ‘’Taruna Goak’’. Pada giliran akhir, I Gusti Ngurah Panji menjadi ‘’Goak’’.

Tradisi Magoak-goakan ini mempunyai tujuan untuk memupuk rasa persatuan dan kesatuan. Makna dari tradisi Magoak-goakkan yakni, kreatifitas dari seorang pemain sulit diterka arah gerakannya. Serta dalam permainan Magoak-goakkan diirini dengan alunan bleganjur untuk memotivasi para pemain agar tetap bersemangat mengikuti permainan ini.

Tradisi Magoak-goakan memiliki nilai-nilai:

  1. Nilai filosofis, seperti yang telah disebut diatas, tradisi ini dilandasi oleh falsafah Tri Hita Karana. Dalam pelaksanaannya, filosofi ini ditunjukkan melalui mendekatkan diri dengan Dewa-Dewi dan para leluhur yang diawali dengan persembahyangan di pura Pajenengan Panji sebelum Permainan megoak-goakan dilaksanakan.
  2. Nilsi antropologis, selain mengandung nilai sejarah yang tinggi, permainan ini memberikan aspek kebersamaan dan kerja keras bagi yang memainkannya. Yang paling menonjol adalah unsur kompetitfnya, sehingga benar-benar cocok selain sebgai upaya pelestarian seni dan budaya juga bernilai olahraga yang tinggi.
  3. Nilai sosiologi, Magoak-goakan ini sebagai alat untuk menjalin rasa persatuan, persaudaraan, rasa tanggung jawab Bersama sebagai factor utama dalam pembangun dan tercapainya masyarakat yang adil.
  4. Nilai psikologi, dalam tradisi ini, masyarakat sangat memercayai adanya relasi kekerabatan yang bercorak psikologis. Hal ini terjalin karena pertalian darah perkawinan, tempat tinggal, dan pergaulan keseharian.

Baca juga: Potensi Desa Wisata Karangasem Kabupaten Sukoharjo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *