Tradisi Siat Tipat Bantal

Tradisi siat tipat bantal ini berlokasi di Mengwi, Kabupaten Badung Bali. Ini adalah sebuah tradisi tahunan yang digelar sejak tahun 1337 oleh masyarakat lokal di Desa Adat Kapal. Tradisi ini tergolong unik yang dilakukan masyarakat di Desa Kapal, sesuai perintah (Bhisama) Kebo Iwa semenjak tahun 1341 M yang merupakan ungkapan syukur warga kepada Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi atas rezeki dan nikmat yang telah diberikan, kepercayaan tersebut secara turun temurun dari generasi ke generasi yang sampai saat ini masih diberlangsungkan.

Prosesi pelaksanaan tradisi ini pada sasih kapat atau purnama ke empat kalender Bali. Pelaksanaan sudah dimulai dari pagi hari jam 07.00 pagi, masyarakat desa Kapal melaksanakan persembahyangan di pura Desa dan Puseh Kapal. Tipat, bantal, soda serta canang yang akan dipergunakan dalam siat ini sudah dipersiapkan oleh warga masyarakat yang tinggal di Desa Kapal.

Setelah selesai bersembahyang, masyarakat desa Kapal yang terdiri 18 banjar dan juga sekaa truna dari 18 banjar tersebut membagi diri dalam dua kelompok besar.  Pakaian yang digunakan adalah daster dan kain. Dua kelompok yang telah terbentuk berdiri di depan bale agung, pemangku kemudian membagi tipat dan bantal tersebut ke masing-masing kelompok. Tradisi ini awalnya hana dilaksanakan sekali yaitu di depan bale agung pura Desa dan Puseh. Tetapi setelah adanya program wisata, akhirnya tradisi  ini dilaksanakan dua kali yaitu di depan bale agung dan di depan pura Desa dan Pura Puseh.

Siat tipat bantal dimulai di depan bale agung dengan aba-aba panitia, diiringi dengan gamelan, tipat bantal di lemparkan ke udara oleh kedua kelompok sehingga terjadi pertemuan yang diyakini akan menimbulkan suatu benih kehidupan yang mendatangkan kesejahteraan.  Tradisi ini dilakukan oleh seluruh masyarakat tanpa pandang usia.

Dalam ritual ini bisa disaksikan berbagai emosi religi dan gerakan sakral (sacred movement), seperti gerakan melempar tipat dan bantal ke atas menuju akasa diharapkan agar tipat dan bantal saling beradu sebagai simbol pertemuan lingga (bantal) dan yoni (tipat), sehingga melahirkan kesuburan dan penciptaan. Lemparan keatas adalah simbol Bapa Akasa (ether) dan saling beradu dengan tipat sebagai simbol tanah (Ibu Pertiwi).

Dalam tradisi ini, tipat dianalogikan sebagai predana (perempuan) sendangkan bantal sebagai purusa (laki-laki), jadi pertemuan dari purusa dan predana akan menghasilkan kehidupan yang diharapkan membuat masyarakat desa Kapal Makmur. Tpat bantal jika diibaratkan dalam keseharian kehidupan masyarakat adalah kepercayaan terhadap sumber kehidupan di dunia ini, yaitu ibu pertiwi. Karena ibu pertiwilah yang memberikan mereka tempat untuk hidup. Begitu juga dengan tipat dan bantal yang bersumber dari padi dan ketam, keduanya berasal dari ibu pertiwi yang menjadi sumber kehidupan masyarakat di Desa Kapal.

Tradisi ini memiliki makna sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas panen yang bermimpah serta memohon keselamatan dan kesejahteraan hidup bagi seluruh masyarakat desa Kapal. Siat tipat bantal ini merupakan simbolisasi untuk menciptakan benih-benih kehidupan melalui sarana tipat dan bantal yang merupakan simbolisasi dari laki-laki  dan perempuan. Dari pertemuan ini diharapkan menghasilkan benih-benih baru, dalam hal ini adalah benih-benih padi yang dapat menyelamatkan masyarakat setempat dari paceklik panen yang berkepanjangan.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Kata kunci: Konsultan pariwisata, penelitian pariwisata, kajian pariwisata

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *