Tren Museum-Date: Perilaku Pemanfaatan Ruang Sosial

Di Indonesia, praktik permuseuman yang mengadopsi gaya museum di masa kolonial terlihat pada kebanyakan museum yang dikelola oleh pemerintah yang mana segala fasilitas dan tata pamerannya masih harus dibenahi Kebanyakan museum yang dikelola pemerintah masih berorientasi konstruksi identitas lokal atau nasional saja, tanpa memerhatikan ruang produksi budaya dan narasi pameran. Namun, beberapa museum milik pemerintah mulai melakukan pengembangan dengan menciptakan narasi pameran yang modern dengan tetap mengangkat identitas lokal. Kegiatan museum-date merupakan kegiatan kencan yang dilakukan terutama oleh generasi Z dengan cara mengunjungi museum dan menikmati koleksinya bersama-sama. Tren museum-date terbentuk disebabkan adanya kuasa dari unsur-unsur pembentuk dinamika museum yang kemudian membentuk relasi.

Sebagai museum yang memiliki narasi pameran yang modern, Museum Kota Lama memberikan pameran yang cukup berbeda dengan museum sejarah konvensional yang dikelola oleh pemerintah di Indonesia, baik dari segi penyampaian narasi maupun tata pamerannya. Dengan demikian, pengalaman dan pengetahuan yang ditawarkan museum berpengaruh pada minat masyarakat untuk mengunjungi museum.

Tidak hanya tumbuh ketertarikan untuk mengunjungi museum, keinginan untuk ikut berbagi informasi mengenai museum juga tercipta karena didorong oleh kuasa sosial media. Hampir serupa dengan konten yang mereka temukan di media sosial, mereka juga berbagi informasi kepada teman-teman media sosialnya. Namun, tidak semua membuat konten yang dikhususkan untuk mengulas museum tersebut. Ada informan yang hanya berbagi melalui Instagram Stories, sebagai penanda bahwa informan sedang berada di museum tersebut. Alasannya, informan tersebut tidak punya cukup waktu untuk membuat satu rangkaian video yang tentu saja memerlukan waktu untuk mengedit videonya.

Adanya suatu tren dalam masyarakat merupakan hasil dari proses interaksi antara beberapa unsur yang saling berkaitan. Interaksi yang tercipta merupakan respon dari kuasa pengetahuan yang tercipta pada tiap-tiap unsur. Realita yang dihadapi adalah, saat ini pengunjung lebih tertarik dengan bagaimana museum mengemas isi museum menjadi menarik secara visual. Dengan visual yang menarik, pengunjung bisa mengunggah konten ke media sosial untuk menunjukkan tanda sudah pernah berkunjung. Eksistensi pengunjung di dunia maya perlu menjadi perhatian ketika melakukan pengembangan tata pamer museum. Penggunaan teknologi imersif di Museum Kota Lama merupakan inovasi yang sesuai karena menimbulkan rasa keingintahuan masyarakat luas, terutama generasi Z sehingga tren museum-date di Museum Kota Lama bisa selalu terjaga eksistensinya.

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *