Monumen Mayor Achmadi di simpanglima Banjarsari berdiri tegak. Monumen ini diresmikan Bapak Joko Widodo kala menahkodai Walikota Surakarta. Di kompleks itu pula, Pak Jokowi mengukir sejarah, yakni “menghalau” PKL tanpa pakai pentungan. Jika ditinjau lebih mendalam, Banjarsari menyimpan roncean sejarah Indis dan nyai yang perlu diumumkan ke khalayak ramai.
Secara administratif, tanah yang berluas kurang lebih 1,5 ha ini masuk kekuasaan Praja Mangkunegaran. Ketika praja dipegang Mangkunegara IV (1853-1881), membuat lapangan pacuan kuda, persisnya di tempat sekarang didirikannya monumen perjuangan 45 itu. Waktu bergulir, lokasi pacuan kuda ini disulap Mangkunegara VI (1896-1916) menjadi tempat hunian golongan Eropa yang bekerja di bidang onderneming (perkebunan).
Mengutip peraturan pembangunan rumah di Villapark, masyarakat pribumi dilarang bermukim di sini meski mereka berhak atas kepemilikan tanahnya. Dalam buku Djodja en Solo terlihat betapa indahnya perumahan yang dihiasi pepohonan cemara dan begitu eksklusif. Sementara itu, yang diperbolehkan menumpang cuma djogos (pelayan laki-laki), wasbaboe (tukang cuci), kokkie (juru masak) serta kebon (tukang kebun).
Reggie Baay (2010) mengisahkan kakek buyutnya yang bernama Daniel Baay ialah salah satu penghuni Villapark. Daniel Baay berkantong tebal sebab sanggup menggabungkan kemampuan berpikirnya dengan kemahiran usaha, kemudian menyewa sebidang tanah luas milik Sunan untuk budidaya tebu. Saking kayanya, ia mempunyai satu kandang penuh kuda pacu dan sebaris kereta yang disewakan kepada warga Eropa yang tinggal di Solo. Menjelang di penghujung abad ke sembilan belas, lelaki ini berkenalan dengan Pariyem, perempuan Jawa keturunan priyayi yang kira-kira berusia dua puluh tahun.
Di Villapark, mereka melakoni hidup bersama layaknya sepasang suami-istri tanpa ikatan perkawinan (samenleving). Orang Eropa menikahi pribumi dipandang rendah, menurukan martabat. Sebaliknya, bagi perempuan berkulit sawo matang justru bangga, derajatnya ikut terkatrol. Daun kalender menunjuk angka 11 Februari 1899. Dari pergundikan mereka, lahir peranakan Indo-Eropa, Louis Henri Adriaan Baay. Berkat asuhan nyai (sebutan untuk gundik) di rumah mewah itu, Louis Baay terawat dan memperoleh kesempatan luas untuk mengembangkan diri. Menginjak dewasa, ia juga menikahi pembantu rumah tangga yang bekerja di Daniel Baay, bernama Moeinah. Gadis Jawa ini berasal dari Jengkilung, sebuah desa yang terletak di Kecamatan Sumberlawang, Sragen. Tahun 1919, wanita ini diberi momongan. Sebagai seorang ibu, Moeinah masih boleh menikmati kedudukannya sebagai nyai, orang Eropa, serta ibu selama beberapa bulan.
Memang, ini cuma sepenggal kisah. Tentu saja masih berjubel kisah historis keluarga Indis di rumah-rumah di Villapark. Kita kian disadarkan bahwa Villapark Banjarsari bukanlah sekadar taman kota untuk rekreasi, melainkan menjadi situs penting. Di situ, tersimpan sejarah panjang kehidupan Indis. Harapannya, tak sedikit keturunan Indo-Eropa tertarik menelusuri jejak nenek moyangnya di Nusantara. Bahkan, banyak ilmuwan yang terpikat meneliti budaya Indis di Indonesia. Nah, inilah peluang emas yang patut digemakan ke tingkat internasional.

No responses yet